Wisatawan Non-Muslim Ternyata Lebih Menyukai Hotel Syariah

hotel syariah

Bogor – Hotel dan penginapan syariah ternyata tidak hanya diminati para wisatawan Muslim. Kalangan non-muslim pun kini juga merasa lebih nyaman menginap di penginapan syariah.

“Bagi traveller yang non-muslim, mereka melihat yang mereka cari yakni nyaman, jaminan fasilitas seperti makanan dan minuman halal, ini somehow yang non-muslim juga tertarik,” ujar Head of Business Unit Airy Ricky Zulfandi di Jakarta, Kamis 31 Oktober 2019 lalu.

Hanya saja, Ricky tidak mengungkap persentase para wisatawan non-muslim yang memilih penginapan atau hotel syariah melalui Airy Syariah. Selain itu, lingkungan yang aman dari hal-hal negatif juga menjadi pertimbangan baik wisatawan muslim maupun non-muslim memesan penginapan/hotel syariah. “Sebenarnya dengan adanya hotel syariah ini karena ketika memilih hotel ingin menghadirkan penginapan yang nyaman, jauh dari hal-hal negatif,” kata Ricky.

Dalam kesempatan itu, VP Marketing Airy Ika Paramita mengatakan, penginapan/hotel syariah bagi muslim menawarkan kelebihan antara lain peralatan ibadah seperti perangkat shalat, keran khusus untuk berwudu, dan petunjuk arah kiblat.

“Menjawab kebutuhan konsumen beragama. Kebanyakan yang datang keluarga, solo traveller yang kebanyakan perempuan. Kami berkomitmen untuk pemerintah Indonesia yang mengembangkan pariwisata yang ramah muslim,” kata Ika.

Baca : Permintaan Wisata Halal Semakin Nyata

Sebagai contoh Danau Toba dan Bali, rencananya kedua tempat tersebut akan menjadi destinasi wisata yang ramah bagi muslim. Wishnutama selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan tempat-tempat wisata yang mayoritas penduduknya beragama non-muslim akan disiapkan supaya dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan muslim.

“Banyak wilayah Indonesia yang non-muslim. Misalnya Toba dan Bali. Itu kita akan siapkan tempat ibadah dan wudhu agar mereka nyaman,” kata Wishnutama.

Destinasi wisata halal sebenarnya bukan barang baru. Pemerintah sempat melempar wacana untuk menjadikan Danau Toba dan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata halal. Namun, wacana ini menerima banyak penolakan dari warga setempat.

Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, menolak menerapkan wisata halal dan syariah di Kabupaten Samosir. “Tidak sesuai dengan budaya dan adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Samosir,” tegas Rapidin. Pemerintah Provinsi NTT juga menyatakan penolakannya terhadap wacana wisata halal di Labuan Bajo. “Mana ada wisata di NTT pakai halal. Kalau ada wisata halal, berarti yang lain haram dong,” kata Gubernur NTT Viktor Laiskodat. Ia khawatir pelabelan ini akan menyebabkan konflik sosial lain di NTT.

Ketua DPD ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, Solahuddin Nasution, berpendapat makna wisata halal dipersepsikan secara keliru. “Bukan mengubah yang non-halal jadi halal. Bukan juga semua aspek diatur berdasarkan syariat Islam. Tapi ketersediaan restoran halal dan non-halal yang repsresentatif bagi wisatawan,” kata Solahuddin.